Skip to main content

Highlight

Lebih Sakit Meninggalkan atau Ditinggalkan?

Dikit-dikit ke Malaysia Part 3: Jatuh Cinta dengan Melaka



Ada hal-hal yang terkadang saya pendam sangat lama, keinginan-keinginan yang bukan prioritas, tapi diam-diam saya perjuangkan.


Ini kisah tentang keinginan datang ke Melaka, Malaysia. Dan bahagia akhirnya bisa mewujudkan ini semua dalam empat tahun.


Untuk perjalanan kali ini, saya dan dua teman saya membeli tiket bus PP. Belajar dari pengalaman ke Genting yang nggak prepare transport, hari ini kami berusaha lebih prepare. Dalam perjalanan pulang dari Genting, kami beli tiket pagi sekitar 10.25 dan pulang sekitar pukul 18.00. Karena kalau baca-baca, durasi perjalanan memakan waktu 2 - 3 jam. 


Baca: Perjalanan ke Genting, Malaysia


Pagi itu, kami memutuskan sarapan dulu di Family Mart NU Sentral. Jujur, Family Mart di Malaysia tuh selengkap itu dan seenak itu. Bahkan rotinya pun enak banget! Tidak lupa ngopi dulu karena takut mumet.




Setelah sarapan, kita naik KLIA Express menuju Terminal Bersepadu Selatan (TBS). TB ini adalah tempat paling berkesan, karena pertama kali trip ke Malaysia sempat ada sesuatu yang terjadi— Tapi justru membuat saya ingin sekali tinggal di Malaysia.


Baca: Pertama kali ke Malaysia dari Singapore


Di TBS, sejujurnya sempet kebingungan di mana menukar tiket online yang sudah kami beli. Guys, kalau di Malaysia biasain jangan malu untuk bertanya karena pasti banyak bingungnya.


Setelah akhirnya menemukan counter yang tepat dan tuker tiket, akhirnya kami masuk ke ruang tunggu. Bus jalan tepat waktu, dan jujur sepanjang jalan sih saya tidur…..




Bangun-bangun udah mau sampai Melaka Sentral. Dari sini, kami langsung pesan Grab menuju Jonker Walk. Di sini kami mampir makan siang dulu, rekomendasi dari TikTok pastinya di Peranakan. Makanannya unik-unik, pelayanannya ramah, dan tempatnya estetik.


Setelah kenyang, kami menyusuri sepanjang Jonker Walk dan sampai akhirnya sampai di Christ Church Melaka. Setelah itu, kami akhirnya memutuskan naik Melaka River Cruise. 


Saya sejujurnya lupa harganya, tapi kalau nggak salah inget sekitar 30 ringgit atau sekitar Rp100ribu di siang hari.




Setelah PP selama kurang lebih 45 menit, kami sempat bingung mau ke mana. Tapi nggak tau kenapa, saya pengen banget ke Masjid Selat Melaka. Tadinya temen saya agak ragu-ragu, tapi saya mantep mau ke sana. Kayak… Sayang banget udah sampai sana tapi nggak ke Masjid Selat Melaka.


Dan beneran itu jadi keputusan terbaik.


Kami naik Grab ke sana, lalu lanjut salat Ashar. Matahari saat itu udah mulai turun, warna langit udah mulai berubah. Sayangnya, kami harus segera cabut karena naik bus pukul 18.00.




Tapi ya, siapa sangka… Busnya ngaret, Guys. Ngaretnya lama banget, sampai sekitar pukul 20.00. Kayak, kan bisa liat Melaka malam hari dulu. HUHUHU.


Nanti datang lagi, ya. Aminkan!


Kami sampai di Kuala Lumpur lagi sekitar jam 12 malam. Jujur cape, tapi tetap saja ini pengalaman menyenangkan.

Comments