Aku merasa asing.
Terasing.
Pada senyum yang biasa aku tertawakan. Pada tawa yang biasa
kusenyumi.
Aku melihatmu. Jelas-jelas melihatmu.
Tapi seperti ada batas.
Mungkin aku terlalu banyak tidur.
Tak melihat Tuhan membangun dinding kaca di sela-sela diriku,
dirimu.
Sepertinya aku tidak meninggalkan kebiasaan-kebiasaan
burukku.
Aku bosan.
Menatapmu aku jengah.
Bisakah kita kembali seperti tak memiliki celah?
Atau kita satukan saja celah-celah itu?
Aku merindukan aroma tubuhmu saat dulu aku bebas memelukmu.
Menggenggam tanganmu saja, kini berisi canggung.
Jadikan saja aku pilihanmu.
Karena jika menjadikanku tujuan, akan terlalu lama kamu
sampai.
Aku muak.
Matahari sudah pergi.
Sebaiknya kamu mengikuti.
Atau kutendang kamu, sambil menangis meronta-ronta.
Tidak tega.
Aku mencintaimu.
Comments
Post a Comment
Berikan komentarmu untuk tulisan ini, yuk! Btw kalau mau komen bisa lewat PC ya :)